Showing posts with label sulawesi. Show all posts
Showing posts with label sulawesi. Show all posts

Wednesday, 20 May 2009

Anggiat Sinaga, Dirut Clarion Hotel & Ketua PHRI Sulsel

"Memotivasi dengan Punishment"

Setelah lebih dari 14 tahun berkecimpung di dunia perhotelan, Anggiat Sinaga akhirnya menyimpulkan bahwa mengelola hotel berbintang maupun hotel kecil itu sama saja. “Sama-sama mengurusi orang banyak,” ujarnya. Selain mengurus staf dan karyawan hotel, tamu yang datang ke hotel juga merupakan prioritas yang harus diperhatikan.

Menyadari bahwa dunia perhotelan adalah relasi antar manusia, Anggiat senantiasa berupaya membangun komunikasi yang baik dengan siapapun. Terhadap customer dan relasi bisnisnya, Anggiat berusaha untuk melakukan approaching dan entertainment. “Saya meniru cara TELKOMSEL yang berani memanjakan customer-nya,” akunya sambil terbahak. Sementara itu terhadap staf dan karyawan di hotel, penggemar bulutangkis yang aktif di berbagai organisasi ini tak hanya melakukan personal approach, tetapi juga merangsang semangat berprestasi melalui kedisiplinan.

Menurut Anggiat, disiplin merupakan hal yang paling utama dalam bisnis perhotelan. “Coba bayangkan bagaimana pelanggan akan kecewa ketika akan check-in tetapi kamar belum siap,” paparnya. Karena itu disiplin waktu yang ketat tidak boleh ditawar lagi di hotel yang dipimpinnya, yaitu Clarion, Quality, dan Grand Palace. Setiap karyawan yang datang terlambat, meskipun hanya terlambat satu menit, akan mendapat hukuman selama 2 jam untuk mencuci piring!

Tak hanya itu, mereka yang terlamat juga harus mengenakan rompi dinas kebersihan lengkap dengan tulisan “Sedang Dihukum”. Setelah itu mereka juga difoto dan dimuat di bulletin karyawan. Setiap bulan pihak managemen akan mengumumkan record karyawan termalas, berapa kali terlambat, dan berapa menit terlambat. “Sanksi ini berlaku untuk semua karyawan, termasuk saya,” tegas Anggiat.

Anggiat mengakui bahwa gaya kepemimpinannya yang penuh disiplin ini mungkin sedikit mirip militer. “Tetapi saya juga menyeimbangkan punishment ini dengan reward yang sepadan,” ujarnya. Karyawan yang tidak pernah terlambat, pada akhir tahun akan mendapatkan penghargaan yang memuaskan. “Sehingga punishment bukan dianggap sebagai sesuatu yang negative, tapi karyawan berusaha mengejar sesuatu yang perfect,” tambahnya.

Setelah sikap disiplin terbangun, Anggiat juga mengedepankan delegation of authority. “Kalau saya bekerja secara one man show, perusahaan nggak bakal jalan,” ujarnya. Bagi Anggiat delegation of authority ini bukan semata-mata untuk mendistribusikan pekerjaan, namun juga harus disertai dengan trust kepada staf terkait. “Sehingga yang bersangkutan akan memunculkan empower yang luar biasa,” ujarnya mantap. Efeknya, karyawan akan semakin termotifasi sehingga kinerja perusahaan pun mengalami peningkatan yang menggembirakan. “Tak sampai setahun sejak saya menerapkan aturan main yang gila ini, pertumbuhan perusahaan meningkat 100%,” ujarnya berbangga.

BIODATA

Nama : Anggiat Sinaga
Lahir : Asahan, Sumut 11 Juli 1967
Organisasi : Ketua PHRI – Sulawesi Selatan
Wakil Ketua KADIN - Sulsel
Wakil Ketua HIPI
Wakil Ketua Apindo
Wakil Bendahara PSM
Hobi : Bulutangkis

Tuesday, 19 May 2009

Hariyadi Kaimuddin: "Biarkan Adrenalin Juga Terpacu"

Karirnya tengah berada di puncak, yaitu sebagai National Brand Manager produk Sampoerna Hijau dan Panamas Kuning milik PT HM Sampoerna. Namun, setelah setahun memegang jabatan tersebut, Hariyadi Kaimuddin memilih kembali ke kota kelahirannya, Makassar, dan bergabung dengan PT Hadji Kalla. “Banyak yang menanyakan kenapa saya pindah ke perusahaan di daerah,” ujarnya.

Bagi Hariyadi pertanyaan dari rekan-rekan bisnisnya adalah wajar. “Saya sendiri merasa pekerjaan saya kala itu sedang seru-serunya,” tuturnya mengenang. Namum tantangan yang ditawarkan di PT Hadji Kalla sebagai Direktur Operasional membuatnya mantap meninggalkan karir di bidang marketing di perusahaan rokok multinasional tersebut. “Banyak potensi yang belum tergarap dengan baik di PT Hadji Kalla,” ujar insinyur lulusan Teknik Industri ITB mengenai alasan utama yang mendorongnya menerima tawaran Dirut PT Hadji Kalla, yaitu Fatimah Kalla, adik kandung Wapres Jusuf Kalla.

Menurut Hariyadi, PT Hadji Kalla merupakan perusahaan besar di Indonesia Timur yang berpotensi untuk terus berkembang. Sedikitnya ada 14 lini bisnis yang berada di bawah bendera PT Hadji Kalla. Hanya saja, belum ada system yang rapi di mana mekanisme spirit karyawan untuk memberikan yang terbaik pada perusahaan belum tergali secara optimal. Semangat kompetisi antar karyawan juga belum muncul. “Mustinya setiap keberhasilan yang dicapai karyawan harus di-celebrate, sehingga orang lain jadi terpacu,” jelasnya.

Karena itu, Hariyadi mencoba membenahi managemen dan budaya perusahaan agar lebih kompetitif. Langkah pertama yang dilakukannya adalah membenahi SDM yaitu dengan meninjau ulang system insentif yang berlaku. Karyawan yang berhasil akan mendapatkan reward, namun jika tidak mencapai target akan ada sesuatu yang hilang. Struktur perusahaan juga mengalami perubahan, kini sudah ada departemen Marketing & Relations yang memperhatikan layanan cutomer.

Selain membenahi SDM, system juga harus diperbaiki. “Percuma orangnya dibenahi tapi tidak didukung system yang memadai,” tambahnya. Saat ini Hariyadi tengah membenahi system IT agar memudahkan managemen dalam mengawasi gerak perusahaan. Dengan system yang kuat, PT Hadji Kalla akan menjadi perusahaan multinasional yang professional yang tidak lagi tergantung pada sosok, yaitu para pendirinya.

Upaya pembenahan yang dilakukan Hariyadi tampaknya mulai menuai hasil. Meski baru 8 bulan memimpin, target perusahaan sudah mengalami kenaikan hingga 40%. Padahal asumsi market hanya sekitar 15% - 20% kenaikan. “Saya nggak mau mencapai target sesuai estimasi pasar, biar adrenalin juga lebih jalan dan terpacu,” tegasnya.

Drs. MZ. Amirul Tamim, M.Si: Mengajak wisatawan Tinggal Lebih Lama


Sudah semestinya setiap putra daerah memiliki dedikasi tinggi untuk membangun daerahnya di kemudian hari. Hal inilah yang dilakukan Drs. MZ. Amirul Tamim, M.Si, yang kini mengemban tugas sebagai Walikota Bau Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. “Saya ingin Bau Bau terdengar di seluruh Tanah Air dan menjadi salah satu daerah tujuan wisata,” ujarnya mantap.

Apa yang diangankan Amirul tentang tanah kelahirannya, memang tidak main-main. Berbekal pengalamannya selama berpuluh tahun menjadi pamong dan abdi negara di Pemprov Sulawesi Tenggara, Amirul menyusun tahap-tahap pembangunan Kota Bau Bau dengan seksama. Mula-mula infrastruktur Kota Bau Bau dibenahi. Berbagai potensi yang terdapat di Kota Bau Bau mulai dieksplorasi. “Bau Bau tak hanya memiliki warisan budaya Kerjaan Buton, tapi juga menyimpan kekayaan bahari yang luar biasa,” paparnya.

Karena menempati wilayah paling tenggara di Pulau Buton, sebagian besar wilayah Bau Bau memang dikelilingi laut. Keindahan teluk dan pantainya belum sepenuhnya tergali. “Padahal, perairan di Bau Bau yang tenang juga bisa seindah Tanjung Benoa di Bali,” ujar dosen luar biasa di Unidayan Bau Bau ini. Karena itu Amirul mencoba mempromosikan keindahan bahari ini dengan menggelar acara Festival Perairan Pulau Makassar pada pertengahan bulan Juli 2008 lalu.

Festival perairan ini berlangsung meriah di teluk yang membatasi Kota Bau Bau dengan Pulau Makassar. Teluk ini bagaikan “kolam laut” dimana pengunjung bisa bermain jetsky, banana boat, maupun flying fish. “Saya sengaja mendatangkan tim teknisi jetsky dan banana boat dari Bali,” tambahnya. Mereka juga diminta untuk melatih SDM lokal sehingga selepas festival, berbagai atraksi wisata air ini tetap dapat dinikmati masyarakat Bau Bau.

Setelah berbagai potensi di dalam kota dibenahi, Amirul mulai membuka jalur transportasi udara sehingga akses menuju Bau Bau semakin mudah. Sejak Oktober 2007, Pemkot Bau Bau telah bekerjasama dengan Merpati Airlines untuk melayani jalur penerbangan langsung dari Makassar (UPG), Sulsel. Dalam sepekan ada 4 kali penerbangan pada hari yang berbeda. Tentang flight schedule ini, Amirul punya alasan tersendiri. Ia tak ingin pesawat mendarat di Bau Bau pada pagi hari dan sorenya take off lagi karena hal itu hanya akan membuat orang singgah sesaat saja di Bau Bau. “Kalau pesawat baru take off keesokan harinya, tamu akan punya kesempatan tinggal di Bau Bau lebih lama,” paparnya tentang salah satu strategi mendatangkan wisatawan ke Bau Bau.


Biodata

Nama : Drs. MZ. Amirul Tamim, M.Si
Lahir : Bau Bau, 15 September 1954
Pendidikan : 1980 tamat dari APDN
1986 S1 Jur. Politik Pemerintahan, Institut Ilmu Pemerintahan –
Jakarta
2001 S2 Manajemen Perkotaan program Magister
Manajemen UNHAS
Website : www.amirultamim.info

Eddy Suprijoso, SE, MBA: “Leadership Intelligent”

Lebih dari 17 tahun dipercaya sebagai pimpinan di beberapa kantor wilayah Pegadaian di seluruh Indonesia, membuat Eddy Supriyoso menyadari bahwa memimpin orang lain tidaklah mudah. “Seorang pemimpin itu harus bisa memberi contoh dan menjadi teladan,” ujar Eddy yang kini menjabat sebagai Pimpinan Wilayah Pegadaian Indonesia Timur.

Eddy memulainya dengan bersikap disiplin pada diri sendiri. Peraih Master of Business Administration (MBA) dari Universitas Kennedy Amerika ini dapat dipastikan sudah berada di ruang kerjanya pada pukul 6.30 WITA. Sebelum memulai kerja, ia juga memimpin doa pagi secara rutin. “Saya tidak segan-segan menegur karyawan yang ketahuan tidak hening saat doa pagi. Berdoa dan bersyukur kepada Tuhan itu hal yang penting dilakukan,” ujar pria kelahiran Probolinggo Jawa Timur ini yang mengaku sesekali mengintip karyawan lewat CCTV saat doa pagi.

Bagi Eddy, spiritualisme harus tetap dijaga di tempat kerja.Eddy menempatkannya pada urutan pertama dalam 5 (lima) leadership intelligent yang dirumuskannya, yaitu kecerdasan spiritual. “Jika kita mengejar akhirat, kita akan mendapatkan kemudahan dunia dan akhirat sekaligus,” jelasnya. Setelah kecerdasan spiritual diasah, barulah kecerdasan intelektualnya ditingkatkan.Seorang pemimpin harus senantiasa meningkatkan kemampuan. “Jangan sampai kalah sama bawahan,” kelakarnya.Namun bukan berarti pimpinan selalu benar dan tidak bisa dikritik. “Kecerdasan emosional membuat saya tidak gampang marah dan bersikap tenang ketika dikritik,” paparnya.

Selain mengembangkan kecerdasan yang bersifat internal seperti di atas, Eddy tidak melupakan pentingnya kecerdasan sosial dan kecerdasan fisikal. “Pimpinan juga harus gaul dong,” katanya sambil tertawa. Karenanya, meski kesibukannya sebagai Pimpinan Wilayah sudah sangat menyita waktu, namun Eddy masih aktif dalam berbagai organisasi sosial di Manado. Eddy menggambarkan bahwa banyak orang berprestasi tapi tidak memiliki relasi sehingga karirnya tidak berkembang.Sementara itu ada orang yang prestasinya biasa-biasa saja, tapi karena memiliki banyak relasi, jadilah yang memberi rekomendasi juga banyak dan karirnya pun akan meningkat dengan cepat.” Perjalanan karir seseorang itu ditentukan oleh prestasi, relasi, nasib, guratan tangan, garis tangan, dan terakhir tanda tangan,” ujarnya sambil terbahak..

Leadership intelligent terakhir yang tidak boleh diabaikan, meski tampaknya sepele, adalah kecerdasan fisikal, yaitu memelihara kesehatan dan penampilan agar tetap prima. “Semakin berada di atas, kita akan semakin dilihat orang. Sepatu nggak semiran bisa dikomentari bawahan,” katanya. Sebaliknya, penikmat olehraga golf dan tennis ini juga mengakui bahwa, “Kalau Boss-nya keren, memelihara penampilan, bawahan juga bangga kan?”


BIODATA

Nama : Eddy Suprijoso, S.E, MBA
Lahir : Probolinggo, 18 September 1958
Pendidikan : S1 dari Univ. Brawijaya, Malang
S2 dari Kennedy University, Amerika
Organisasi : Ketua Forum BUMN Manado
Wakil Ketua Pengembangan Ekonomi UKM
Hobby : Golf, Tennis

Jamaluddin AS, S.E : "Berani Menepis Rasa Malu"


Meniti karir di bidang asuransi merupakan pekerjaan yang penuh tantangan. Tak sedikit yang menyerah hanya karena ditolak calon nasabah. Ada pula yang memilih berhenti karena merasa malu dan gengsi menjadi agen asuransi. “Saya berupaya untuk menyingkirkan rasa malu dan tak mudah menyerah saat mendekati nasabah,” ujar Jamaluddin AS, Dirut Bumiputera sekaligus coordinator wilayah Sulawesi Tenggara yang sudah lebih dari 24 tahun berkarir di Bumiputera.

Jamal mulai meniti karirnya di Bumiputera sebagai agen asuransi ketika berusia 21 tahun. Sebagai pemuda yang berasal dari keluarga sederhana, Jamal mencoba mencari penghasilan dengan menjual polis asuransi dari pintu ke pintu di Pare-Pare, kota kelahirannya. Menjual polis asuransi pada masa itu, sekitar tahun 1984, masih sangat sulit mengingat belum terbukanya pemahanan masyarakat akan pentingnya asuransi. “Asuransi itu masih barang langka. Hanya orang-orang tertentu saja yang mau membeli polis,” ujarnya.

Namun Jamal tak pernah menyerah ketika penawarannya ditolak dan dia harus mencari calon nasabah lagi sambil membawa map berisi formulir. “Pada waktu itu agen masih pakai map, nggak seperti sekarang yang sudah menenteng laptop,” ujarnya tertawa mengenang saat awal merintis karir sebagai agen yang dijalaninya selama 10 tahun. Berkat semangat dan kerja kerasnya, Jamal dipercaya menjadi kepala unit di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sejak itu karirnya mulai menanjak dan dipindahkan ke berbagai kota untuk memimpin kantor cabang hingga kemudian menjadi Direktur Utama Bumiputera dan Koordinator Wilayah Sulawesi Tenggara.

Tentang keberhasilannya itu Jamal mengaku bahwa kunci sukses menjual asuransi adalah pantang menyerah dan berani menepis rasa malu. “Saya heran, banyak orang yang malu kalau ketahuan menjual polis asuransi padahal pekerjaan ini kan juga halal,” ujarnya. Jamal mengakui bahwa menjual polis asuransi memang pekerjaan yang kurang bergengsi tetapi hal itu dikarenakan masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai asuransi itu sendiri.

Sampai hari ini masyarakat masih melihat asuransi bukanlah kebutuhan yang mendesak, walaupun sebenarnya sangat mendesak kalau diterjemahkan secara ke dalam. Suatu ketika kita akan kehilangan nilai ekonomi, misalnya karena sakit atau meninggal. “Nah, salah satu bentuk investasi yang fleksibel adalah asuransi,” tambah Jamal.

Karena itu Jamal selalu mengingatkan pada anak buahnya agar tak bosan memberi penjelasan pada calon nasabah. Kalau baru sekali presentasi dan ditolak, itu hal yang wajar. “Minimal setiap calon nasabah harus dikunjungi 5 kali,” tegasnya.


BIODATA

Nama : Jamaluddin AS, S.E
Lahir : Pare Pare, 31 Desember 1964
Pendidikan : S1 Fak. Ekonomi, STIE Makassar lulus th. 2006
Hobi : Golf
Karir
2006 : Kacab Kendari, Sultra
2005 : Kacab Makassar, Sulsel
2003 : Kacab Pangkeb, Sulsel
2002 : Kacab Bau Bau, Sultra
1999 : Kacab Bulukumba, Sulsel
1997 : Kacab. Pare Pare, Sulsel
1994 : Kepala Unit Kolaka, Sultra
1984 : Agen Asuransi

Monday, 18 May 2009

dr. Dian M. Isabela: Tenaga Medis di Lingkungan Kepolisian

Cobalah bertanya pada anak-anak, apa yang menjadi cita-citanya jika dewasa kelak. Umumnya, mereka akan menjawab: “jadi dokter!”. Jawaban serupa juga dilontarkan Dian M. Isabella semasa kecil. Apalagi orang tuanya juga berprofesi sebagai dokter, sehingga sejak kecil dunia medis sudah diakrabi Dian. “Selain saya, adik saya kemudian juga jadi dokter. Bahkan ipar saya juga dokter. Hanya saya yang menikah dengan Polisi,” ujar lulusan Fak. Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) ini sambil tertawa.

Namum, menjadi istri Polisi membawa berkah tersendiri bagi Dian. Tenaga medis di lingkungan kepolisian masih sangat dibutuhkan dan memberikan peluang untuk mengambil spesialisasi tertentu. Sehingga, selepas menyelesaikan tugasnya sebagai Dokter PTT di pedalaman Kalimantan Tengah, Dian melamar menjadi tenaga medis di lingkungan kepolisian. “Sekarang kalau suami pindah tugas, saya juga bisa dengan mudah mengajukan pindah mengikuti suami,” ujar istri Jansen Sitohang ini yang menyusul suaminya yang sudah setahun menjabat sebagai Kadit Reskrim Polres Gorontalo.

Dian mengakui, bekerja sebagai tenaga medis di lingkungan kepolisian sangat berbeda dengan di Puskesmas atau Rumah Sakit Umum. Jika di Puskesmas umum seorang dokter memiliki kewenangan penuh dalam mengelola kliniknya, maka dokter poliklinik kepolisian berada di bawah kewenangan Kapolres setempat. “Di sini atasan saya adalah Kapolres langsung,” ujar Dian.

Di tempat tugasnya yang baru di Poliklinik Polres Gorontalo, Dian tak hanya dituntut untuk beradaptasi dengan peraturan di lingkungan kepolisian, namun juga harus membenahi managemen poliklinik. Maklumlah, sebelum kehadiran Dian, poliklinik ini tidak memiliki dokter khusus dan hanya datang pada jam-jam tertentu. “Sekarang saya standby di Poliklinik selama jam kerja,” ujarnya.

Dengan adanya dokter yang siaga sejak pukul 8.00 – 14.00 WITA, poliklinik yang terbuka untuk masyarakat umum, tidak hanya pasien dari lingkungan kepolisian, ini diharapkan dapat melayani dengan lebih optimal. Sebagai dokter pertama yang ditempatkan di Poliklinik Polres Gorontalo, Dian tak hanya berurusan dengan pasien, namun juga bertekad membenahi manajemen dan bangunan fisik poliklinik.

Banyak hal yang harus dibenahinya, dari mulai menyiapkan sistem penyimpanan kartu pasien hingga merencanakan penambahan ruang untuk rawat inap pasien. “Tapi harus pelan-pelan membenahinya,” ujarnya. (tita - mar '07)

Biodata

Nama : dr. dian Melva Isabella
Tempat Tgl. Lahir : Medan, 17 Januari 1975
Nama suami : Jansen Sitohang, Sik
Nama anak : Shevanela Putri Shotia

Hamid Kuna Direktur Rahmat Tour: “Tiket Pesawat Saya Jual Murah”

Dibukanya jalur penerbangan ke berbagai kota di penjuru Tanah Air dengan tarif murah, menjadikan akses ke berbagai daerah menjadi lebih mudah serta hemat waktu dan uang. Kemajuan ini tak dapat dipisahkan dari peran pengusahan travel agent yang bekerjasama dengan airline untuk membuka jalur penerbangan baru. “Kita carter pesawat untuk membuka jalur penerbangan baru,” ujar Hamid Kuna, Direktur Rahmat Tour.

Sejak membuka usaha travel agent di Manado pada tahun 1997, Hamid Kuna terus melakukan upaya agar Rahmat Tour tidak hanya melayani penjualan tiket. Pada tahun 2000, ia nekat menyewa (carter) Bouraq Airline untuk membuka jalur penerbangan Manado – Ternate. Tindakannya menyewa pesawat paska kerusuhan Ambon, tentu saja menjadi bahan tertawaan sesama pengusaha travel. “Mereka mengejek dan menertawakan saya,” kenang Hamid.

Namun, ejekan itu tak menyurutkan niatnya. Sebaliknya, kegigihannya membuahkan hasil. Airline yang dicarternya selama 2 tahun itu dapat melayani rute penerbangan hingga ke Ambon, Tual, Luwuk, dan Gorontalo. Setelah itu, maskapai penerbangan lain pun tak luput dicarternya pula. Selain membuka jalur penerbangan di wilyah Indonesia Timur, Hamid juga mencarter pesawat untuk penerbangan Jakarta – Bengkulu, Jakarta – Lampung, juga Jakarta – Tanjung Pandan. Bahkan, Sarjana Teknik yang telah puluhan tahun menggeluti bisnis kontraktor ini juga membuka jalur penerbangan internasional, Manado – Dafau (Filipina). “Tiketnya pun saya jual murah, hanya US$ 60 return,” tegasnya.

Menurut Hamid, mencarter pesawat akan membuatnya lebih leluasa mengatur harga tiket pesawat. “Kita menyewa berdasarkan jam terbang dan membayar uang sewa 6 bulan di muka,” ujarnya. Karena uang sewa sudah dibayarkan terlebih dahulu, Hamid bisa menentukan harga tiket pesawat yang akan dijual ke pasaran. Margin laba dari penjualan tiket sepenuhnya menjadi keuntungan Hamid dan Rahmat Tour yang dikelolanya.

Di balik kegigihannya membangun bisnis travel dan membuka jalur penerbangan dengan tarif murah, Hamid menyimpan keinginan agar setiap orang bisa merasakan “di atas awan” atau naik pesawat. Ia pun tak segan-segan mensponsori berbagai undian berhadiah tiket pesawat. Juga, ketika dirinya dilantik sebagai anggota legislatif Provinsi Gorontalo, Rahmat Tour membagikan puluhan seat gratis untuk penerbangan Gorontalo – Makassar yang diumumkan lewat surat kabar daerah sehari sebelumnya. Tidak takut merugi? “Di bisnis airline, sehari rugi 200juta itu biasa, tapi sehari untung 500juta itu juga biasa,” tandas pria yang pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Pengusaha Kontruksi Indonesia.

Biodata
Nama : Ir. H. Hamid Kuna
Tempat Tgl. Lahir : Gorontalo, 2 Januari 1963
Organisasi:
• Ketua Komisi D Bid. Pembangunan DPRD Prop. Gorontalo
• Ketua ASITA, Gorontalo
• Ketua Asosiasi Kontraktor Air Indonesia
• Ketua Persatuan Sepak Takraw
• Bendahara Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII)

Fadel Muhammad: "Menuju Entrepreneurial Goverment"


Sebelum menjabat sebagai Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad telah dikenal sebagai pengusaha sukses di Tanah Air. Salah satu kerajaan bisnis yang dibangunnya adalah PT Bukaka Teknik Utama, industri alat berat dan penunjang infrastruktur bertaraf internasional. Fadel juga mengendalikan sejumlah perusahaan besar lain seperti PT Bayer Urethanes Indonesia (bidang Petrochemical Industries), PT Dowell Anadrill Schlumberger Indonesia (bidang Oil dan Gas Service), PT Gema Baker (bidang Oil dan Gas Service), PT Gema Sembrown (bidang Steel Febricator on Oil dan Gas Industry), dan PT Nesic Bukaka (bidang Telekomunikasi).

Bagi Fadel, memanage pemerintahan itu tak ubahnya memanage sebuah perusahaan. Jika sebuah perusahaan berorientasi pada produk atau komoditi oriented, maka untuk memajukan suatu daerah juga perlu memantapkan komoditi oriented. “Inilah yang disebut entrepreneurial government,” jelas alumnus ITB tahun 1978 ini. Fadel mengakui, gaya kepemimpinannya ini semula disangsikan oleh banyak pihak. Namun dari hasil evaluasi yang dilakukan Menpan dan Mendagri, ternyata Gorontalo yang terbaik. “Model korporasi ini nantinya akan diterapkan secara nasional,” tambahnya.

Provinsi Gorontalo sendiri memiliki komoditi pertanian yang potensial untuk dikembangkan, yaitu jagung. Sejauh mata memandang, kita akan menemukan hijaunya tanaman jagung di lahan-lahan pertanian. Keberadaan lahan pertanian produktif ini juga sangat diperhatikan oleh Fadel. Untuk pembangunan kantor pemerintahan baru setelah Gorontalo lepas dari Sulawesi Utara dan menjadi provinsi yang mandiri, Fadel membuka lahan-lahan kritis di perbukitan. Kantor Gubernur dan kantor DPRD, misalnya, dibangun di atas bukit Huluya. “Coba kita lihat di luar negeri, kantor pemerintahan kan capital hill, ada di atas bukit memanfaatkan lahan kritis” tandasnya. Ia menyayangkan kecenderungan pemerintah yang menggunakan area persawahan untuk membangun perkantoran. “Lahan produktif, biarlah untuk meningkatkan perekonomian rakyat,”tambahnya.

Upaya Fadel membangun Gorontalo dari ketertinggalan dengan meningkatkan potensi pertanian, khususnya jagung, memang tidak tanggung-tanggung. Sejumlah seminar dan kegiatan yan berkaitan dengan jagung sering digelar di Gorontalo. Termasuk festival jagung yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di dunia dan mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yang mencatat acara makan jagung secara massal sebanyak 10.500 mangkuk binthe, yaitu makanan khas Gorontalo yang terbuat dari jagung. Berbagai kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkuat brand-image Gorontalo sebagai penghasil jagung utama di dunia. “Jagung itu green gold,” tegas Ketua Umum Dewan Jagung Nasional ini. (tita - feb '07)


BIODATA

Nama : Ir. Fadel Muhamad
Tempat/Tgl. Lahir : Ternate, 20 Mei 1959
Nama Istri : Hj. Hana Hasanah
Website : http://www.fadelmuhammad.com/

Raymond Affandi: "Makassar Membutuhkan Convention Centre"


Kehadiran sebuah convention centre di kota Makassar memang sudah menjadi kebutuhan. Selama ini sejumlah kongres nasional maupun agenda MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang digelar di Makassar sering terhambat oleh kapasitas ruang yang belum memadai. “Hotel yang kami bangun memiliki kapasitas ballroom hingga 3.000 orang,” ujar Raymond Affandi, salah satu owner Hotel Clairon Makassar.

Berbekal pengalaman sebagai Developer, Raymond pun menyanggupi ajakan sahabat dekatnya, owner Hotel Quality Makassar, untuk mengelola sebuah hotel yang memiliki ballroom terbesar di wilayah Indonesia Timur. Kepada mediaHALO, penikmat olahraga tennis ini bertutur tentang usaha perhotelan yang tengah dijajakinya.


Apa yang membuat Anda tertarik mengelola hotel?
Sebenarnya mengelola hotel itu pengalaman pertama buat saya dan memberikan tantangan tersendiri. Meskipun sebelumnya saya sudah banyak membangun jalan raya, perumahan, kantor, maupun kompleks ruko tetapi membangun hotel itu ternyata memiliki kompleksitas yang tinggi. Setiap elemen saling memiliki keterkaitan, mulai dari elektrikal, mekanikal, hingga sanitari. Saat akan membangun plafon misalnya, harus lebih dulu dipastikan kesiapan elektrikal dan mekanikal yang ada di atasnya.

Selain urusan teknis, apa lagi yang mengesan dengan mengelola hotel ini?
Biasanya hotel besar itu kan managemennya dari luar. Nah, managemen proyek Hotel Clairon ini kami kelola sendiri. Dengan berbagai macam kesulitan, namun akhirnya kami berhasil memenuhi target soft opening akhir Juni lalu. Live event di Ballroom pun sudah 95% terisi.

Sebenarnya apa sih yang ditawarkan dari hotel ini?
Begini, Makassar sudah sangat membutuhkan tempat-tempat convention yang mampu menampung ribuan orang. Di sini sudah sering diakanan kongres nasional, tetapi belum memiliki convention yang luas dan nyaman. Nah, ballroom yang kami bangun ini mampu menampung sekitar 3.000 orang. Dapat dikatakan ballroom ini terbesar yang pernah dibangun di Indonesia Timur.

Anda juga seorang akademisi ya?
Ya, ya, saya memang masih berstatus sebagai dosen di Fakultas Teknik Atamajaya. Dan saya tidak ingin menanggalkan status itu meskipun memiliki kesibukan lain sebagai kontraktor. Bahkan saya mengangankan suatu saat bisa membangun universitas yang qualified. Tapi kalau mengingat kehidupan kampus saat ini yang sering diwarnai aksi demo mahasiswa, membuat kendor niat saya. Bagaimana mungkin bisa menghasilkan mahasiswa yang qualified kalau setiap ada issue sosial dan politik langsung turun ke jalan?

Lalu..
Sementara keinginan membangun universitas saya pendam dulu. Tapi setidaknya saya sudah membuka lembaga pendidikan bahasa Inggris, yaitu ILP di Pettarani Makassar yang merupakan cabang ke-43 di Indonesia. Mengusai bahasa asing itu juga penting. Saya pernah memiliki pengalaman mengesan soal bahasa ini. Tahun 90an saya ke Australi dengan modal nekat. Sampai di sana saya menghubungi orang yang menjemput saya. Saat saya menelpon, saya tidak mengerti apa yang dia katakan. Sejak itulah saya bertekad untuk memperdalam kemampuan berbahasa Inggris.

Setelah membangun jalan raya, perumahan, ruko, hotel, dan lembaga pendidikan, mimpi apa lagi yang masih ingin Anda wujudkan?
Karena belum berani membangun universitas, saya memimpikan bisa membangun hospital atau rumah sakit. Dari segi sosial, banyak orang membutuhkan rumah sakit. Biaya berobat juga kian mahal. Kebetulan, Papi saya seorang dokter. Sedikit banyak saya memahami dunia medis.

Alex Kawilarang W Masengi: “Hanya Sedikit Orang yang Memperhatikan Kapal Perikanan”

Sudah selayaknya Indonesia berbangga memiliki pakar di bidang perkapalan seperti Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini tak henti melakukan inovasi teknologi perkapalan. Bahkan sejumlah temuannya telah dipatenkan di Jepang. “Saat ini saya tengah menyiapkan proposal paten ke Genewa untuk temuan baru, yaitu kapal dengan bahan kayu yang tahan air dan api,” ujar ayah empat anak ini.

Temuan barunya ini sudah diuji sejak 6 tahun lalu di sejumlah negara, seperti Jepang, Belanda, dan Inggris. Kepada mediaHALO, Doktor yang lulus dengan predikat cumlaude dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang ini menuturkan pergulatannya berinovasi di bidang kapal perikanan.


Biasanya dari mana ide merancang kapal itu muncul?
Waktu saya merancang kapal bersirip yang mendapat paten dari Jepang , idenya datang dari ikan terbang yang dapat melayang di atas permukaan air laut. Sifat-sifat khas anatomi ikan terbang ini yang kemudian diterapkan dalam desain badan kapal sehingga memiliki kestabilan yang lebih tinggi. Sedangkan temuan baru saya yang menggunakan kayu tahan api dan air ini idenya datang dari peti mati yang dahulu biasa digunakan orang tua kita. Pohonnya banyak tumbuh di Sulawesi. Kayunya ringan, namun tahan oleh percikan api. Material ini sudah diuji di Belanda, bahkan pada tahun 2001 dipamerkan di pameran meterial kayu dunia di Eropa. Mereka takjub dengan kekuatan kayu ini.

Kira-kira temuan baru ini akan diberi nama apa?
Wah, nanti dulu. Nanti lah, kalau patennya sudah keluar baru saya umumkan. Yang jelas, temuan ini nantinya akan menjadi salah satu produk dari Putra Indonesia. Dari ide hingga final product, saya berperan langsung.

Ngomong-ngomong apa yang membuat Anda tertarik mempelajari kapal?
Begini, negara kita itu kan negara maritim, negara kepulauan. Tapi institusi di bidang perkapalan sangat minim. Saat mendapat beasiswa S2 dari Toyota Foundation Jepang, saya kemudian memilih ilmu perkapalan. Meskipun awalnya sangat rumit mempelajari berbagai rumus, tapi lama-lama ilmu perkapalan ini menarik juga. Apalagi sembari kuliah saya juga mendapat proyek mendesain ulang kapal sebanyak 412 desain. Honor yang saya terima ketika itu, jika dirupiahkan saat ini, berkisar 10 juta per disain. Bayangkan, mahasiswa tapi bisa cari uang!

Wow, luar biasa! Desain jenis kapal apa yang kebanyakan Anda buat?
Kebanyakan desain kapal perikanan dan sudah banyak diterapkan di Indonesia. Hingga saat ini pun saya masih terlibat dalam pembuatan kapal kerjasama asosiasi kapal perikanan Jepang – Indonesia. Sekali sebulan, saya menghabiskan waktu seminggu untuk mengawasi pembuatan kapal di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ke depan, saya akan konsern mengembangkan teknologi kapal perikanan.

Kenapa?
Hanya sedikit orang yang memperhatikan kapal perikanan. Umumnya orang lebih tertarik mengembangkan kapal feri. Padahal banyak nelayan yang sering mengalami kecelakaan, tetapi tidak pernah diekspos media. Saya ingin mengembangkan ilmu perkapalan yang menyentuh langsung pada masyarakat. Misalnya saja bagaimana membuat kapal yang hemat energi. Kapal-kapal yang canggih biarlah dikembangkan oleh orang lain, konsentrasi saya untuk lapisan bawah saja, yang lebih dibutuhkan nelayan Indonesia pada umumnya.

Anwar Fatta: “Meskipun Sedikit, Saya Ingin Menggaji Orang”


Di kalangan kontraktor, nama Anwar Fatta sudah tak asing lagi. Bukan semata-mata karena ia pernah tercatat sebagai Ketua Gapensi (Gabungan Pelaksanan Konstruksi Nasional Indonesia) wilayah Sulawesi Selatan dan Wakil Ketua Umum Gapensi Pusat. Pengusaha asal Bugis ini kini menduduki kursi komisi V DPR RI. “Sudah saatnya saya menyalurkan aspirasi rakyat dan mengembangkan potensi intelektual,”akunya mengenai keputusannya terjun di kancah politik.

Telah 35 tahun ia merintis karir sebagai kontraktor. Perusahaan yang dirintisnya, PT. Karya Utama Persada Sakti (KUPS) pun telah berkembang menjadi empat perusahaan. Selain di bidang konstruksi, KUPS Group juga bergerak di bidang perikananan, perkebunan, dan asuransi. Kerja kerasnya telah membuahkan hasil, mewujudkan angannya untuk menggaji orang lain. Padahal, ia bukan berasal dari keluarga pengusaha, “Ayah saya militer yang hidup dari gaji bulanan. Saya bertekad menjadi orang yang bisa menggaji orang,” ujar ayah berusia 56 tahun ini.

Kini, sehari-hari ia berkantor di Gedung DPR/MPR di Jakarta. Hanya pada akhir pekan Komisaris Utama KUPS Group ini kembali ke Makassar, itu pun jika kesibukannya sebagai wakil rakyat tak menyita agenda weekend bersama keluarga. Di sela-sela waktu mudik lebaran lalu, mediaHALO menemuinya di kantor KUPS, Jl. Landak 9 – 11 Makassar. “Sudah satu tahun saya tidak duduk di kursi ini,” kelakarnya saat menerima mediaHALO di ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang kerja istrinya sebagai Direktur Utama.


Apa yang membuat Anda tertarik pada bisnis kontruksi dan bangunan?
Kehidupan sebagai kontraktor sudah lama menarik perhatian saya. Seorang kontraktor itu berbeda dengan pengusaha yang menjual produk. Kerja kontraktor bisa dibilang dari nol, dari sesuatu yang tidak ada kemudian diusahakan menjadi ada. Ibaratnya kita akan membangun bendungan, yang tersedia hanya sungai dan lahan kosong. Kontraktor dituntut untuk membuat perencanaan proyek sekaligus membangunnya. Kontaktor juga orang yang bekerja penuh selama enam hari dalam seminggu. Pada hari-hari biasa ia bekerja secara tekun, pada akhir pekan ia tetap punya kewajiban membayar upah pada karyawannya. Saya menyukai kerja keras seperti itu, rasanya cocok dengan karakter saya.

Lalu, sejak kapan Anda terjun sebagai kontraktor?
Saya mulai terjun di bidang konstruksi sejak usia 21 tahun. Saat itu saya bergabung dengan rekan yang sudah menjadi kontraktor senior. Selama kurang lebih 8 tahun saya menghabiskan waktu di luar Makassar untuk mengerjakan sejumlah proyek. Setelah kembali ke Makassar saya memutuskan untuk membangun usaha sendiri. Delapan tahun merupakan waktu yang cukup untuk belajar dan kemudian merintis usaha sendiri. Jadilah pada tahun 1978 saya mendirikan CV. Karya Utama Persada Sakti (KUPS) dengan modal pas-pasan yang saya kumpulkan.

Sekarang KUPS telah menjadi perusahaan besar….
Sejak kecil selalu bercita-cita meraih sesuatu yang besar. Saya berusaha untuk bisa mencapai tahapan yang lebih besar dari yang pernah saya capai. Ketika saya akan keluar dari kantor lama, rekan saya sempat menahan agar terus bekerja sama. Kami sudah cocok sebagai tim kerja.Tetapi kalau saya terus bertahan, saya tak akan jadi besar. Saya beruntung berani membuat keputusan mendirikan usaha. Setidaknya sekarang saya sudah menjadi kontraktor senior di Sulawesi Selatan. Saat saya mendirikan KUPS, baru ada 26 kontraktor di Sulsel. Sekarang, kurang lebih tercatat 7000 kontraktor yang berebut proyek di Sulawesi Selatan.

Anda tak hanya dikenal sebagai pengusaha, tetapi juga cukup aktif di berbagai organisasi.
Sebagai pengusaha kita juga harus memperluas jaringan. Aktif di organisasi juga akan mengasah sejumlah kemampuan kita yang lain selain berbisnis. Apalagi setelah umur makin bertambah dan kemampuan fisik berkurang. Waktunya untuk mengasah kemampuan intelegensia.

Termasuk terjun di bidang politik?
Aktivitas berpolitik saya lahir sebagai panggilan nurani. Saat umroh ke tanah suci, saya mohon petunjuk Allah apa yang sekiranya harus saya kerjakan di saat usia sudah makin tua. Setelah kembali ke tanah air, saya mendapat bisikan untuk mempertegas aktivitas politik saja. Tahun 2003 secara resmi saya menyatakan aspirasi politik saya di PDIP. Sejak saat itu hari-hari saya banyak diisi kegiatan untuk partai. Saya pun juga mendapat dukungan hingga akhirnya terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2004.

Lalu bagaimana dengan aktivitas bisnis yang sudah Anda rintis?
Bisa dibilang sekarang fokus perhatian saya sebagai anggota DPR RI sepenuhnya untuk kepentingan rakyat bersama. Untuk itu saya harus menanggalkan jabatan sebagai ketua Gapensi, juga sebagai Direktur Utama di KUPS Group. Operasional perusahaan sudah saya serahkan pada istri saya, Surya Hartati Ningsih. Jabatan Direktur Utama tidak secara tiba-tiba diperolehnya. Sejak 5 tahun lalu, ia sudah bergabung di KUPS. Ia merintis karir dari staf biasa dan ternyata mampu mengelola perusahaan ini. Sebagai pengusaha muda, kini ia juga mulai aktif di organisasi seperti HIPMI.

Ngomong-ngomong, bagaimana Anda menjaga stamina agar tetap fit selama bolak-balik Jakarta – Makassar?
Apa ya, paling-paling minum vitamin. Tapi yang jelas, setiap akhir pekan saya berusaha istirahat dan berkumpul keluarga. Kalau saya tidak bisa kembali ke Makassar, istri yang akan menyusul ke Jakarta. Dia punya waktu yang lebih fleksibel ketimbang waktu saya. Kadang-kadang, si kecil juga dibawa ke Jakarta sebagai obat rindu. (tita/nov - 2005)