Showing posts with label gubernur. Show all posts
Showing posts with label gubernur. Show all posts

Tuesday, 19 May 2009

Karel A. Ralahalu Gubernur Maluku: Membangun dengan Nilai dan Kearifan Lokal


Hampir 10 tahun sudah konflik Maluku berlalu. Namun kenangan tanggal 19 Januari 1999 yang meluluhlantakkan infrastruktur kota Ambon, sebagai ibukota Provinsi Maluku, serta rusaknya tatanan social, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat Maluku masih membuat kita miris bila mengenangnya. Sejumlah pengamat sosial menilai bahwa penyelesaian konflik di Maluku membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun. Namun berkat dukungan dari seluruh kekuatan masyarakat Maluku dan berbagai pihak terkait, dalam waktu kurang lebih 3 tahun konflik di Maluku dapat terselesaikan dengan damai.

Penanganan masalah paska konflik merupakan tantangan berat yang dilalui Karel Albert Ralahalu setelah diangkat menjadi Gubernur Maluku pada 16 September 2003.
Masalah sosial yang cukup pelik, yaitu penanganan pengunsi paska konflik menjadi perhatian utamanya. “Pengungsi yang kembali umumnya hidup dalam kondisi miskin sehingga Pemda Maluku harus melakukan berbagai program pemberdayaan,” ujarnya. Hingga tahun 2006 Pemda Maluku telah mengangani sebanyak 79.447 KK berupa bantuan bahan bangunan rumah untuk 58.671 KK, pembangunan rumah siap huni untuk 16.984 KK, serta pembangunan rumah jadi kepada 3.792 KK transmigran.

Di samping pembangunan sarana tempat tinggal untuk pengungsi, Gubernur Karel mengakui bahwa peran pebisnis dalam pembangunan Maluku paska konflik memiliki kontribusi yang cukup penting. Kegiatan ekonomi yang sempat terganggu telah pulih kembali dan turut berperan dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran di Maluku. Pembangunan dan rehabilitasi saranan dan prasara di Maluku juga dibangun oleh para kontraktor. “Begitu pula peran TELKOMSEL yang mampu menghubungkan hampir semua kepulauan yang ada di Maluku,” tambahnya.

Perjuangan Gubernur Karel dalam memimpin dan memulihkan kondisi Maluku memang tak diragukan lagi. Beliau mencanangkan 5 tahun kepemimpinannya dalam dua tahap, yaitu Tahap Pemulihan dan Stabilitas (2003 – 2005) dan Tahap Penciptaan Daya Saing Berkelanjutan (2005 – 2008). Tak heran bila ia kembali terpilih menjadi Gubernur Maluku untuk periode 2008-2013. Pada periode 5 tahun ke depan ini, Gubernur Karel beserta seluruh jajaran pemerintah daerah dan masyarakat berupaya membangun Maluku yang sejahtera, rukun, religius, dan berkualitas yang dijiwai semangat nilai-nilai dan kearifan lokal Siwalima.

Siwalima merupakan pranata sosial masyarakat Maluku yang menjunjung kebersamaan dan kerukunan antar anggota masyarakat agar tercapai kesejahteraan bersama. Semangat Siwalima ini sudah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku dan telah melembaga menjadi world view atau cara pandang masyarakat tentang hidup bersama yang rukun dan damai. Selain Siwalima masyakat Maluku juga memiliki pranata sosial budaya Pela, yaitu sistem ikatan sosial budaya di antara dua desa di luar factor genealogis atau keturunan. Pranata sosial Pela dan Siwalima merupakan kearifan lokal yang menjadi dasar kerukunan masyarakat Maluku yang multikultur. “Pada dasarnya masyarakat Maluku tidak suka konflik,” papar Gubernur Karel yang menyayangkan adanya orang-orang yang menyebarkan isyu provokatif. “Buktinya Pilkada di Ambon diakui Presiden berlangsung paling aman di Indonesia,” tambahnya berbangga.

BIODATA

Nama : Karel Albert Ralahalu
Lahir : Allang, Ambon, 6 Januari 1946
Pendidikan : AKABRI (lulus th. 1972)
Penghargaan :
Satya Lencana Seroja (1975 dan 1978), Satya Lencana Kesetiaan VIII (1980), Satya Lencana Kesetiaan XVI (1988), Satya Lencana Kesetiaan XXIV (1996), Satya Lencana Bintang Kartika Eka Paksi Nararva (1998), Satya Lencana GOM IX Raksaka Dharma (2000), DR (HC) bidang Management dari Western Kennedy University (2001), Satya Lencana Wirakarya dari Depdagri (2003), Satya Lencana Wira Karya dari BKKBN (2004), Manggala Karya Kencana dari Presiden RI (2004), Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Ri (2004 dan 2006), Satya Lencana Melati dari Pramuka (2005), Satya Lencana Pembangunan Umum dari Presiden RI (2007).

Monday, 18 May 2009

Fadel Muhammad: "Menuju Entrepreneurial Goverment"


Sebelum menjabat sebagai Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad telah dikenal sebagai pengusaha sukses di Tanah Air. Salah satu kerajaan bisnis yang dibangunnya adalah PT Bukaka Teknik Utama, industri alat berat dan penunjang infrastruktur bertaraf internasional. Fadel juga mengendalikan sejumlah perusahaan besar lain seperti PT Bayer Urethanes Indonesia (bidang Petrochemical Industries), PT Dowell Anadrill Schlumberger Indonesia (bidang Oil dan Gas Service), PT Gema Baker (bidang Oil dan Gas Service), PT Gema Sembrown (bidang Steel Febricator on Oil dan Gas Industry), dan PT Nesic Bukaka (bidang Telekomunikasi).

Bagi Fadel, memanage pemerintahan itu tak ubahnya memanage sebuah perusahaan. Jika sebuah perusahaan berorientasi pada produk atau komoditi oriented, maka untuk memajukan suatu daerah juga perlu memantapkan komoditi oriented. “Inilah yang disebut entrepreneurial government,” jelas alumnus ITB tahun 1978 ini. Fadel mengakui, gaya kepemimpinannya ini semula disangsikan oleh banyak pihak. Namun dari hasil evaluasi yang dilakukan Menpan dan Mendagri, ternyata Gorontalo yang terbaik. “Model korporasi ini nantinya akan diterapkan secara nasional,” tambahnya.

Provinsi Gorontalo sendiri memiliki komoditi pertanian yang potensial untuk dikembangkan, yaitu jagung. Sejauh mata memandang, kita akan menemukan hijaunya tanaman jagung di lahan-lahan pertanian. Keberadaan lahan pertanian produktif ini juga sangat diperhatikan oleh Fadel. Untuk pembangunan kantor pemerintahan baru setelah Gorontalo lepas dari Sulawesi Utara dan menjadi provinsi yang mandiri, Fadel membuka lahan-lahan kritis di perbukitan. Kantor Gubernur dan kantor DPRD, misalnya, dibangun di atas bukit Huluya. “Coba kita lihat di luar negeri, kantor pemerintahan kan capital hill, ada di atas bukit memanfaatkan lahan kritis” tandasnya. Ia menyayangkan kecenderungan pemerintah yang menggunakan area persawahan untuk membangun perkantoran. “Lahan produktif, biarlah untuk meningkatkan perekonomian rakyat,”tambahnya.

Upaya Fadel membangun Gorontalo dari ketertinggalan dengan meningkatkan potensi pertanian, khususnya jagung, memang tidak tanggung-tanggung. Sejumlah seminar dan kegiatan yan berkaitan dengan jagung sering digelar di Gorontalo. Termasuk festival jagung yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di dunia dan mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yang mencatat acara makan jagung secara massal sebanyak 10.500 mangkuk binthe, yaitu makanan khas Gorontalo yang terbuat dari jagung. Berbagai kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkuat brand-image Gorontalo sebagai penghasil jagung utama di dunia. “Jagung itu green gold,” tegas Ketua Umum Dewan Jagung Nasional ini. (tita - feb '07)


BIODATA

Nama : Ir. Fadel Muhamad
Tempat/Tgl. Lahir : Ternate, 20 Mei 1959
Nama Istri : Hj. Hana Hasanah
Website : http://www.fadelmuhammad.com/