Showing posts with label general manager. Show all posts
Showing posts with label general manager. Show all posts

Wednesday, 20 May 2009

Simon P. Yapsawaky, mantan Residen Manager PetroChina - Sorong

"Menjaga Hubungan Baik"

Bulan Agustus 2008, Simon P. Yapsawaky akan mengakhiri masa tugasnya sebagai Resident Manager PetroChina area Salawati Papua. Usianya genap 56 tahun dan saat pensiun sudah menjelang. “Sebenarnya saya pengin istirahat saja,” ujar Simon. Namun belum juga masa pensiunannya tiba, putra Papua ini sudah mendapat banyak tawaran, mulai menjadi konsultan di perusahaan gas hingga permintaan ikut Pilkada di kampung halamannya, Biak.

Simon memang sosok yang kaya akan pengalaman. Sejak tahun 1973, ia sudah terjun di bidang pertambangan minyak dan gas. Tak hanya di Papua, ia juga pernah ditempatkan di sejumlah kota lain yang kaya sumber minyak seperti di Pekanbaru (Riau), Banjarmasin (Kalsel), Tuban, dan Bojonegoro (Jatim). Tidaklah mengherankan jika kemudian PetroChina memilihnya menjadi Resident Manager area Salawati Papua ketika perusahaan perminyakan asal China ini mulai beroperasi di Papua pada tahun 2002 lalu.

Posisinya sebagai Resident Manager PetroChina area Salawati Sorong membuatnya harus banyak berhubungan dengan masyarakat setempat maupun pejabat terkait di lingkungan pemerintah daerah Sorong, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bagi Simon menjaga hubungan baik dengan pihak terkait itu harus terus dijaga. Jika tidak, bisa menimbulkan masalah yang berkepanjangan. “Persoalan seperti ini bisa menyita pikiran,” ujarnya.

Karena itu Simon tak lelah melaukan berbagai kegiatan yang dapat mendekatkan hubungan dengan masyarakat setempat maupun pemerintah daerah. “Kami rutin memberikan sponsorship untuk kegiatan-kegiatan yang diadakan pemerintah,” jelasnya. Sementara itu untuk masyarakat setempat, dikembangkan program community development. Saat ini program yang tengah digiatkan adalah memberikan sarana pendidikan baik berupa pemberian SPP untuk anak-anak yang kurang mampu maupun pembangunan gedung-gedung sekolah. “Supaya mereka tak perlu jauh-jauh ke kota untuk meneruskan sekolah tingkat lanjut,” tambahnya.

Bagi Simon pengalaman teknis yang diperoleh selama lebih dari 30 tahun berkarir di bidang pengeboran minyak dan gas menjadi kian lengkap dengan pengalaman menjalin hubungan sosial dengan berbagai pihak. Tidaklah berlebihan jika menjelang masa pensiun, masyarakat di Biak berharap Simon berlaga dalam Pilkada untuk memimpin daerah. “Ah, tapi saya tidak mau jadi Bupati. Kalau jadi anggota DPRD bolehlah,” katanya sambil tertawa.


Biodata
Nama : Simon P. Yapsawaky
Lahir : 31 Agustus 1951
Karir : 1973 – 1985 Petromer Trend corporation, Papua
1985 – 1987 Trend Energy Kalimantan, Ltd, Banjarmasin
1988 – 1989 Trend Sumatra limited, Pekanbaru
1990 – 1991 JOB Pertamina, Trend Tuban, Surabaya, Jatim
1992 – 1997 JOB Pertamina Trend Salawati, Papua
1997 – 1998 JOB Pertamina Santa Fe Tuban, Bojonegoro, Jatim
1998 – 2001 Santa Fe Energy Resources Limited, Papua
2002 Devon Energy Limited, Papua
2002 – sekarang PetroChina International (Bermuda) Ltd, Papua

Tuesday, 19 May 2009

Yuyun Chandra, Mengelola Museum


Bagi sebagian orang, museum bukanlah tempat yan menarik untuk dikunjungi. Museum hanya mengingatkan kita pada “keterpaksaan” yang pernah kita alami semasa duduk di bangku sekolah, saat study-tour bersama para guru yang menugasi kita untuk mencatat peristiwa dan tahun-tahun bersejarah. Sementara itu fasilitas dan bangunan yang dimilki museum selalu mencerminkan kekunoan. Bahkan beberapa di antaranya berdebu dan pengab. Tak hanya itu, para guide dan petugas museum pun biasanya sudah berusia lebih dari separoh abad.

Citra museum yang sudah terlanjut lekat dengan kekunoan membuat kita yang hidup di era digital menjadi enggan mengunjungi museum. Padahal, museum menyimpan kejayaan dan kekayaan masa lalu yang dapat kita jadikan sebagai suritauladan. Banyak manfaat yang dapat kita petik dengan mengunjungi museum. Hanya saja manfaat itu tidak kita peroleh secara instant, tetapi melalui proses perenungan panjang.

Merosotnya minat generasi muda mengunjungi museum menjadikan keprihatinan tersendiri bagi para pengelola museum. Hal ini pula yang dirasakan Yuyun Candra, Manger Operasional House of Sampoerna, museum milik produsen rokok kretek tertua dan terbesar ke-4 di dunia, yaitu Sampoerna. Memasarkan museum memang membutuhkan strategi pemasaran khusus. Yuyun Candra yang ditugasi mengepalai operasional House of Sampoerna, menuturkan pergulatannya dalam melestarikan cagar budaya.

Memperingati ulang tahun ke-90 pada tahun 2003, Sampoerna memugar kompleks pabrik pertama rokok Dji Sam Soe. Kenapa kompleks itu kemudian dijadikan museum?

Sebenarnya House of Sampoerna merupakan jawaban atas banyaknya keinginan orang untuk mengunjungi Sampoerna. Melalui museum ini pengunjung akan mendapatkan kisah perjalanan hidup Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, maupun melihat dari dekat aktifitas produksi rokok kretek Dji Sam Soe. Dari sisi historie, bangunan bergaya kolonial Belanda yang didirikan tahun 1913 ini mencatat sejarah yang sangat berharga. Bagi Sampoerna, kawasan ini adalah tempat tinggal sekaligus pabrik pertama yang dibangun. Tetapi kawasan ini juga merupakan cagar budaya yang patut dilestarikan karena merupakan kawasan kota lama Surabaya.

Sebagai museum yang berdiri di tengah-tengah kawasan kota lama Surabaya, apakah tidak memberikan kesan bahwa House of Sampoerna juga kuno seperti museum lain pada umumnya?

Kalau hanya menyebutnya sebagai museum memang kesannya kuno, tetapi cobalah bertanya pada mereka yang sudah pernah berkunjung ke mari. House of Sampoerna bukan museum yang kuno, kotor, dan berdebu. Malam adem, sejuk, disertai aroma cengkeh yang sedap. Bangunannya yang bergaya kolonial dan diberi sentuhan modern juga merupakan karya arsitektur yang layak dinikmati. Dengan merawat bangunan kuno, House of Sampoerna justru ingin memperlihatkan bahwa bangunan kuno tidak selalu angker tetapi juga bisa mendatangkan profit.

Lalu bagaimana Anda mengkomunikasikan pada publik bahwa House of Sampoerna berbeda dengan museum kebanyakan?

Menciptakan suansa museum yang menyenangkan, fun, merupakan langkah awal yang kami tempuh. Suasana itu tercipta secara internal dengan melibatkan mahasiswa yang bekerja secara paruh waktu di House of Sampoerna. Hampir 90% staf di sini masih berstatus mahasiswa. Suasana kerja pun menjadi lebih rileks, tidak kaku, bahkan terasa fresh. Secara eksternal, kami membuat berbagai event meriah untuk menggairahkan museum. Beberapa waktu lalu kami membuat acara rally museum dengan menggandeng 3 museum yaitu Tugu Pahlawan, Museum Kesehatan, dan House of Sampoerna. Acaranya meriah seperti layaknya rally, ada kuis, games, door-prize dan lain sebagainya. Tetapi muatan edukasinya juga ada, peserta kemudian jadi lebih mengenal museum. Padahal semula banyak yang belum pernah mengunjungi Tugu Pahwalan dan Museum Kesehatan. Bulan Agustus ini juga akan diadakan festival film karya pelajar dan mahasiswa. Kami berusaha membuat acara-acara yang murah, meriah, melibatkan banyak orang sehingga mereka mau datang ke House of Sampoerna. Yang penting datang dan lihat dulu.

Selain museum juga ada galeri, kafe, dan kios. Apa yang melatarbelakangi pemilihan bidang tersebut dibuka secara bersamaan?

Sebenarnya ini sebuah obsesi. Kami ingin House of Sampoerna menjadi tempat wisata yang lengkap. Ada obyek yang dipelajari lewat museum, ada yang bisa dilihat di galeri seni, kalau capek sudah tersedia makanan di kafe, dan sebelum pulang pengunjung bisa memilih oleh-oleh di kios cinderamata yang kami sediakan. Secara lebih luas, House of Sampoerna ingin menjadi tujuan wisata alternatif di Surabaya. Selama ini orang berkunjung ke Surabaya hanya untuk kepentingan bisnis, obyek wisatanya ya cuma mall. House of Sampoerna menyediakan alternatif wisata unik di kawasan kota lama Surabaya. Lima tahun mendatang kami berharap House of Sampoerna sudah dikenal di seluruh nusantara, sehingga ketika ada yang akan berkunjung ke Surabaya orang lantas mereferensikan House of Sampoerna sebagai tempat yang layak dikunjungi.

Wow, luar biasa sekali. Tentunya dibutuhkan sosok yang juga luar biasa untuk mengelola museum, galeri, sekaligus kafe dan kios seperti itu. Bagaimana Anda mampu mengelolanya secara sinergis?

Hahaha..konon, inilah kelebihan kaum hawa. Para peremuan dikarunia kemampuan untuk mengelola berbagai hal secara seimbang dalam waktu yang bersamaan, berbeda dengan kaum Adam yang cenderung terfokus pada bidang tertentu. Tetapi secara khusus saya juga terus berupaya membangun networking dengan berbagai bidang yang terkait dengan museum, seperti aktif dalam Paguyuban Pelestarian Pustaka Indonesia (P3I). Galeri seni juga mengajari saya mengasah sense of art memberikan dorongan untuk mengikuti berbagai acara yang terkait dengan seni lukis. Karena kami juga mengelola kafe, mau tak mau wawasan tentang kuliner harus terus diasah (tita - agustus 2005)

Sudarto – Manager Area PT. Sarana Boga Utama

Barangkali banyak yang bertanya-tanya, dari mana para pekerja tambang yang tinggal di tengah hutan jauh dari permukiman maupun mereka yang bekerja di lepas pantai memperoleh bahan makanan untuk dikonsumsi setiap harinya? Tentu bukan dengan cara berburu di hutan atau menjaring ikan di laut untuk mendapatkan lauk. Tetapi mereka menggunakan jasa catering internasional yang secara khusus mensuplai bahan-bahan makanan yang didatangkan dari kota.

Bahan-bahan makanan itu didatangkan sebulan sekali oleh PT SBU. Perusahaan ini melayani jasa catering internasional dengan segmen khusus tambang (mining) yang berada di wilayah Kalimantan hingga Papua. “Bisnis di bidang ini memiliki tantangan yang luar biasa,” ujar Sudarto, Area Purchasing Manager PT SBU.

Tantangan yang paling utama adalah masalah delivery. Karena lokasi pertambangan umumnya terpencil dan susah dijangkau, Sudarto dituntut untuk membuat jadwal pengiriman yang tepat waktu dan aman dalam perjalanan. Alat transportasi yang digunakan umumnya kapal khusus jenis landed tank truck (LTT) yang bagian bawahnya datar. “Supaya nggak nyangkut saat masuk ke sungai-sungai di pedalaman,” jelas Sudarto.

Hanya saja kapal jenis LTT ini tidak bisa sekencang kapal laut pada umumnya, sehingga Sudarto harus bisa memperhitungkan dengan tepat kapan kapal akan tiba di tujuan.Terlambat sehari saja, akan membuat mereka tak bisa makan seharian karena berada di tengah hutan. “Tantangannya memang luar biasa, menyangkut hajat hidup orang banyak,” tandas Sudarto yang telah berpengalaman puluhan tahun di bagian food and beverage hotel berbintang.

Untuk mengantisipasi hal ini, Sudarto selalu memantau kapal yang berangkat mengangkut bahan makanan. Setiap saat Sudarto menghubungi ponsel kapten kapal untuk menanyakan keadaannya dan posisinya. “Untung jaringan Telkomsel luas, jadi saya bisa mendapat informasi posisi kapal sudah sampai di mana,” ujarnya.

Selain tantangan dalam hal delivery, jasa catering internasional dengan segmen tambang ini juga dituntut untuk mengirimkan makanan yang aman (food save) dan tidak mudah rusak atau membusuk. Untuk makanan basah seperti daging dan ikan diperlukan treatment khusus. “Handlingnya harus bagus dan higinis, jangan sampai mereka sakit perut begitu mengkonsumsi makanan kami” jelasnya.


Biodata

Nama : Sudarto, S.E
Lahir : Banyuwangi, 5 Desember 1961
Pendidikan : S1 Fak. Ekonomi – universitas 17 Agustus, Surabaya
Karir
1983 – 1985 purchasing clerk Hotel Benakutai - Balikpapan
1985 – 1988 buyer
1988 – 1994 supervisor
1994 – 1995 manager
1995 - 2004 purchasing manager Accor Hotel Novotel Surabaya
2004 - area purchasing manager PT PBU

Jamaluddin AS, S.E : "Berani Menepis Rasa Malu"


Meniti karir di bidang asuransi merupakan pekerjaan yang penuh tantangan. Tak sedikit yang menyerah hanya karena ditolak calon nasabah. Ada pula yang memilih berhenti karena merasa malu dan gengsi menjadi agen asuransi. “Saya berupaya untuk menyingkirkan rasa malu dan tak mudah menyerah saat mendekati nasabah,” ujar Jamaluddin AS, Dirut Bumiputera sekaligus coordinator wilayah Sulawesi Tenggara yang sudah lebih dari 24 tahun berkarir di Bumiputera.

Jamal mulai meniti karirnya di Bumiputera sebagai agen asuransi ketika berusia 21 tahun. Sebagai pemuda yang berasal dari keluarga sederhana, Jamal mencoba mencari penghasilan dengan menjual polis asuransi dari pintu ke pintu di Pare-Pare, kota kelahirannya. Menjual polis asuransi pada masa itu, sekitar tahun 1984, masih sangat sulit mengingat belum terbukanya pemahanan masyarakat akan pentingnya asuransi. “Asuransi itu masih barang langka. Hanya orang-orang tertentu saja yang mau membeli polis,” ujarnya.

Namun Jamal tak pernah menyerah ketika penawarannya ditolak dan dia harus mencari calon nasabah lagi sambil membawa map berisi formulir. “Pada waktu itu agen masih pakai map, nggak seperti sekarang yang sudah menenteng laptop,” ujarnya tertawa mengenang saat awal merintis karir sebagai agen yang dijalaninya selama 10 tahun. Berkat semangat dan kerja kerasnya, Jamal dipercaya menjadi kepala unit di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sejak itu karirnya mulai menanjak dan dipindahkan ke berbagai kota untuk memimpin kantor cabang hingga kemudian menjadi Direktur Utama Bumiputera dan Koordinator Wilayah Sulawesi Tenggara.

Tentang keberhasilannya itu Jamal mengaku bahwa kunci sukses menjual asuransi adalah pantang menyerah dan berani menepis rasa malu. “Saya heran, banyak orang yang malu kalau ketahuan menjual polis asuransi padahal pekerjaan ini kan juga halal,” ujarnya. Jamal mengakui bahwa menjual polis asuransi memang pekerjaan yang kurang bergengsi tetapi hal itu dikarenakan masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai asuransi itu sendiri.

Sampai hari ini masyarakat masih melihat asuransi bukanlah kebutuhan yang mendesak, walaupun sebenarnya sangat mendesak kalau diterjemahkan secara ke dalam. Suatu ketika kita akan kehilangan nilai ekonomi, misalnya karena sakit atau meninggal. “Nah, salah satu bentuk investasi yang fleksibel adalah asuransi,” tambah Jamal.

Karena itu Jamal selalu mengingatkan pada anak buahnya agar tak bosan memberi penjelasan pada calon nasabah. Kalau baru sekali presentasi dan ditolak, itu hal yang wajar. “Minimal setiap calon nasabah harus dikunjungi 5 kali,” tegasnya.


BIODATA

Nama : Jamaluddin AS, S.E
Lahir : Pare Pare, 31 Desember 1964
Pendidikan : S1 Fak. Ekonomi, STIE Makassar lulus th. 2006
Hobi : Golf
Karir
2006 : Kacab Kendari, Sultra
2005 : Kacab Makassar, Sulsel
2003 : Kacab Pangkeb, Sulsel
2002 : Kacab Bau Bau, Sultra
1999 : Kacab Bulukumba, Sulsel
1997 : Kacab. Pare Pare, Sulsel
1994 : Kepala Unit Kolaka, Sultra
1984 : Agen Asuransi

Monday, 18 May 2009

Puguh Imanto: "Virtual Office itu Sangat Mungkin"

Menemukan pekerjaan yang mendukung hobi, sudah pasti menyenangkan. Inilah yang dirasakan Puguh Imanto, Project Leader General Electric (GE) Oil & Gas Balikpapan. Boss terdekatnya yang berada di Kuala Lumpur memungkinkan Puguh untuk business travelling ke sana. Ia juga bisa setiap saat menjelajahi pedalaman Borneo. Sembari bekerja, Puguh dapat menyalurkan hobi travelling dan fotografi.

Tentu saja semua itu berkat jaringan TELKOMSEL yang sudah menjangkau pelosok nusantara. “95% pekerjaan saya lakukan dengan remote by phone, chatting, maupun e-mail,” ujar Puguh. Selama ada jaringan telepon dan internet, komunikasi antara Puguh dengan Boss-nya yang berada di Kuala Lumpur dapat berjalan lancar. “Didukung infrastruktur yang ada, virtual office itu sangat mungkin,” tegas pelanggan Platinum TELKOMSEL ini.

Menurut Puguh, virtual office jauh lebih efektif dan murah karena pekerjaan dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Koordinasi pekerjaan cukup dilakukan melalui tele-conference antar negara, tak perlu tatap muka. “Di sinilah peran telekomunikasi jadi kerasa banget bagi pekerjaan saya,” tambahnya. Apalagi, Puguh juga seorang traveller yang tak pernah melewatkan hari libur dengan melakukan penjelajahan. Sekalipun tengah backpacking ke sutu tempat, Puguh tetap bisa berkoordinasi dengan parent kerjanya.

Bagi penggemar travelling seperti Puguh, jangkauan telekomunikasi yang luas jelas sangat membantu. Tak hanya untuk berkomunikasi dengan perusahaan untuk urusan pekerjaan, jaringan telekomunikasi justru memegang peran penting pada saat-saat darurat. Bisa dibilang, jangkauan sinyal telepon seluler sama pentingnya dengan kotak P3K yang menjadi bekal para traveller maupun penjelajah alam. “Beberapa waktu lalu ada rekan yang mengalami kecelakaan di Rinjani. Karena ada sinyal ponsel, dia dapat diselamatkan,” tutur Puguh yang juga tercatat sebagai kontributor situs www.indobackpacker.com

Puguh sendiri tak pernah meninggalkan ponselnya saat menjelajah nusantara maupun ke luar negeri. Luasnya cakupan international roaming TELKOMSEL membuat Puguh tak perlu kerepotan ganti simcard lokal di negara-negara yang dijelajahinya, seperti Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga England. “Saya selalu mengaktifkan TELKOMSEL, cuma sayangnya nggak bisa lihat incoming caller ID, padahal international roaming-nya kan mahal,” ujarnya sambil tertawa.



Biodata
Nama : Puguh Imanto
Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta, 27 April 1973
Pendidikan : S1 Teknik Mesin – Universitas Indonesia
Hobi : Travelling, Fotografi
Karier : 1997 – 1999 Tripatra engineering
2000 – 2001 Total Indonesie
2003 – 2005 Schlumberger – Geoquest
2006 – sekarang General Electric (GE) Oil & Gas

Jeffri Widoyono – Aviastar: “Dengan Aturan Kita Akan Safe”

Sejak dibukanya jalur penerbangan dari Balikpapan ke Kutai Barat, kabupaten baru yang memiliki sumber kekayaan alam terbesar di Kalimantan Timur ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Banyak pengusaha dan investor yang mulai menamamkan modalnya di Kutai Barat. ”Membantu peningkatan ekonomi daerah terpencil dengan membuka akses penerbangan merupakan salah satu tujuan sosial kami,” jelas Jeffri Widoyono, Branch Manager PT Aviastar Mandiri di Balikpapan.

Langkah yang ditempuh Aviastar memang tak sia-sia. Terbukti, jalur penerbangan ke Kutai Barat cukup padat. ”Minimal harus reservasi 2 minggu sebelumnya untuk mendapatkan seat,” lanjut Jeffri kepada mediaHALO yang menemui di ruang kerjanya. Selanjutnya ayah dua anak ini berkisah tentang bisnis penerbangan perintis yang digelutinya.


Sebagian orang masih merasa kurang safe terbang dengan pesawat kecil...
Kecil-kecil begini kami audited loh. Aviastar itu audited company, tiap enam bulan sekali kami diaudit. Audit itu nggak mudah dan sangat mahal. Kami sangat commit terhadap apa yang sudah ditetapkan oleh safety audit kami dari Australia. Safety itu mahal harganya. Semua company kalau ngomongin safety bisa sakit kepala…

Bagaimana dengan harga tiketnya?
Waktu saya publish pertama kali, memang banyak yang komplain kenapa ticket fare nya cukup tinggi. Bukan karena kami ingin mengambil banyak keuntungan, tapi karena memang biaya operasional kami cukup tinggi. Harga bahan bakar sangat mahal, selain itu kami juga tidak mendapat subsidi dari pemerintah. Bahkan harga pesawat baling-baling ini pun lebih mahal ketimbang pesawat besar 737-200. Tetapi yang paling utama, kami sangat mengutamakan safety. Sekarang pelanggan sudah dapat merasakan sendiri kenyamanan terbang dengan Aviastar. Terbukti penerbangan ke Kutai Barat selalu penuh.

Selain melayani penerbangan reguler, apa lagi jasa yang disediakan?
Jasa penerbangan kami meliputi passenger flight, cargo flight, foto udara, survey udara, dan medical evacuation. Saat ini kami sudah memiliki pelanggan tetap yaitu beberapa perusahaan yang mempunyai ikatan kontrak panjang. Perusahaan di pedalaman Kalimantan masih sanagat membutuhkan pesawat kecil dan helikopter.

Bisnis penerbangan di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan. Tidak tertarik membuka jalur penerbagan non perintis?
Kami memang tengah menyiapkan jalur penerbangan umum yang lebih luas. Tapi sebelum dibuka, kami ingin memantapkan safety di jalur penerbangan perintis terlebih dahulu. Kami ingin menjadi perusahaan penerbangan dengan standar keamaan terbaik, karena itu dengan mengusai penerbangan kecil ini diharapkan kedepannya ketika mengoperasikan jalur penerbangan yang lebih luas sudah lebih siap. Para pelanggan juga akan lebih nyaman terbang dengan Aviastar.


Ngomong-ngomong sejak kapan Anda tertarik dunia penerbangan?
Saya sudah mengalami beberapa perusahaan non penerbangan. Sebelum bergabung dengan Aviastar saya sudah mengurusi helikopter sekurangnya 4 tahun sebagai operational coordinator. Yang menarik dari dunia penerbangan itu semuanya punya aturan. Tiap-tiap bagian harus punya lisensi, nggak bisa sembarangan orang. Nggak ada komponen yang bisa diakali. Dengan aturan kita akan safe. (tita/agustus - 2006)

H. Becky Soebagyo: “Enjoy Your Life, Lupakan Usia”


Nama Becky Soebagyo (57) memang belum setenar adik kandungnya, aktor Pangky Soewito. Namun demikian, di Kotamadya Balikpapan, Branch Manager PT. Sea Horse ini cukup populer. Selain aktif di berbagai kegiatan dan organisasi sosial, Becky juga dikenal sangat ramah pada siapapun. “saya memang suka bergaul,” ujar ayah tiga anak ini.

Alasan itu pula yang membuatnya memilih bergabung di perusahaan shipping dan meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan perkilangan minyak. “Saya bukan tipe orang yang betah bekerja di lingkungan tertutup dengan perhitungan jam kerja yang ketat,” katanya. Beruntunglah PT. Sea Horse yang baru membuka kantor cabang di Balikpapan memberi peluang untuk bergabung pada tahun 1978. Di perusahaan ini Becky sering melakukan tugas lapangan hingga ke pedalaman Kalimantan. “Pekerjaan saya sangat tertolong dengan kartuHALO. Nggak ada provider lain yang bisa menjangkau hingga pedalaman,” ujar pemegang kartu Gold HALOclub ini.

Pada suatu sore, mediaHALO berkesempatan berbincang panjang di ruang kerjanya di Kompleks Balikpapan Permai. Ayah tiga anak yang masih tampak awet muda ini berkisah tentang loyalitas dan filosofi hidupnya.


Apa yang membuat Anda bisa menikmati bidang ini hingga lebih dari 27 tahun?
Tuntutan pekerjaan di perusahaan shipping ini sangat sesuai dengan karakter saya. Saya menyukai pekerjaan outdoor. Di sini saya juga harus berhubungan dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi. Klien saya macam-macam, ada oil company, perusahaan tambang batubara, juga para broker.

Sebagai pemimpin, bagaimana Anda mengelola perusahaan dan bawahan?
Tantangan berusaha di bidang shipping adalah bagaimana menyakinkan pada klien bahwa barang yang kami angkut dalam kondisi aman dan delivery yang tepat waktu. Klien yang sudah percaya biasaya akan menggunakan jasa kami lagi. Meskipun dalam perkembangannya bisnis shipping banyak bermunculan di Balikpapan, tapi Sea Horse masih tetap eksis. Terhadap karyawan, saya nyaris tidak pernah marah malah sering bercanda. Kalaupun ada karyawan yang salah, saya berusaha menghindari kemarahan. Kalau dimarahi biasanya kan juga cuma senyum-senyum, malah membuat kita tambah kesal.

Mungkin karena jarang marah jadi awet muda ya?
Usia saya memang sudah 57 tahun, banyak teman seangkatan saya yang wajahnya sudah kelihatan tua. Saya sendiri tidak pernah mengingat usia dalam bekerja. Selama masih mampu bekerja, saya akan terus bekerja. Kalau hanya mengingat usia yang terus bertambah, bisa stress. Kalau sudah stress, bikin cepat tua. Kalau mau awet muda kuncinya ya enjoy your life, lupakan usia selagi bekerja.


Ngomong-ngomong, tidak berminat membangun bisnis sendiri?
Banyak orang melakukan hal itu, setelah berpengalaman kemudian merintis usaha sendiri. Saya pun pernah beberapa kali memulai usaha, tetapi sepertinya jalan hidup saya lebih cocok menjadi karyawan, bekerja di perusahaan orang. Saya rasa dua-duanya sama berat. Bekerja pada orang lain itu berat, harus memenuhi keinginan pimpinan. Tapi punya perusahaan sendiri juga tidak gampang. Jadi pemimpin itu susah, yang dipikirin banyak. Kalaupun nanti pensiun, saya pengin meperdalam agama, jadi uztad…

Cita-cita yang mulia….
Saya sudah menunaikan ibadah Haji tahun 1995. Meskipun sudah merencanakan sejak tahun 1990, tapi baru terlaksana lima tahun kemudian. Saya banyak belajar agama dari salah seorang Uztad di Martapura, Kalsel. Kadang-kadang, kalau ada teman yang punya masalah, sering kali tanpa sadar saya sudah ngomong panjang lebar. Mereka bilang, apa yang saya katakan seperti memberi solusi dan pencerahan. Padahal saya sendiri kadang nggak ngerti habis ngomong apa saja. (Tita/Dec - 2005)